Postingan

Saat Maestro Membaca Maestro, Sebelum “Lo. Gue. End.”

Gambar
García Márquez: historia de un ­deicido Mario Vargas Llosa Barcelona: Barral Editores, 1971 Gabriel García Márquez. Mario Vargas Llosa. Keduanya penulis besar Amerika Latin. Sama-sama dikagumi dan disegani dengan caranya masing-masing. Keduanya meraih Hadiah Nobel. Tanpa mereka sastra Amerika Latin, bahkan sastra dunia, takkan menjadi seperti adanya kini. Keduanya pernah berteman akrab, sangat akrab malah, sampai-sampai García Márquez menjadi bapak baptis anak Vargas Llosa. Tapi pada 1976, persahabatan itu bubar begitu saja setelah keduanya beradu jotos di sebuah bioskop di Mexico City. Kalau kata ungkapan populer sekarang ini: “Lo. Gue. End.” Semenjak itu keduanya tak pernah lagi bertegur sapa. Seperti menjadi kesepakatan diam-diam antar penulis Kolombia dan penulis Peru itu untuk tidak mengomentari karya satu sama lain. Uniknya, dalam pengamatan saya, keduanya masih sering menyinggung topik-topik yang mirip, dengan gaya dan caranya masing-masing. García Márquez menelisik profil fisik...

Wawancara Gabriel García Márquez dengan Subcomandante Marcos

Gambar
Kutipan wawancara antara Subcomandante Marcos dengan Gabriel García Márquez dan Roberto Pombo mewakili majalah Meksiko Revista Cambio . Wawancara utuh terbit pertama kali di Revista Cambio 26 Maret 2001. Subcomandante Marcos adalah juru bicara karismatis Tentara Pembebasan Nasional Zapatista (EZLN) Meksiko yang mengangkat senjata pada 1 Januari 1994 untuk melawan terampasnya hak-hak masyarakat adat oleh proses globalisasi ekonomi neoliberal. Komunike-komunike EZLN dan tulisan-tulisan Marcos (1994-2004) serta artikel-artikel lain mengenai pemberontakan Zapatista telah saya terjemahkan dan terbit dalam tiga jilid buku: Bayang Tak Berwajah: Dokumen Perlawanan Tentara Pembebasan Nasional Zapatista (INSIST Press, 2003), Kata Adalah Senjata: Kumpulan Tulisan Terpilih 2001-2004 (Resist Book, 2005), Atas dan Bawah: Topeng dan Keheningan (Komunike-komunike Zapatista Melawan Neoliberalisme) (Resist Book, 2005). GGM : Masih punya waktu membaca di sela-sela kekacauan ini? Marcos : Ya, ...

Ziarah Neruda pada Kesunyian

Gambar
La rosa separada / The Separate Rose Pablo Neruda Copper Canyon Press, 2005 Di balik setiap aktivitas melancong senantiasa terdapat hasrat untuk menjelajah yang-belum-terjamah, hasrat untuk mencari yang-otentik, yang-asli, dan di balik hasrat tersebut senantiasa terdapat asumsi orientalis bahwa tempat kita bertolak telah rusak oleh peradaban, modernitas, dan “kemajuan”, sementara kemurnian diharapkan ada di tempat yang kita tuju. Karena itu kita merengut melihat tempat eksotis yang ternyata tak sesuai bayangan: alih-alih warga asli dengan kegiatan adatnya, berkerumunlah para penjual menjajakan pulsa hingga Coca Cola, jejak-jejak dari peradaban yang kita hindari itu. Padahal, justru kedatangan para pelancong inilah yang pertama kalinya membuat suatu daerah perawan bersentuhan dengan modernitas. Inilah ironi dan paradoks pelancongan: “Ketika gelombang turis melewati kawasan yang tadinya tak tersentuh, perekonomian lokal akan merombak diri mengantisipasi pengunjung yang akan datang. Sikap...

Meniru Inca dan Menjadi Llama: Tintin di Amerika Latin—atau, Amerika Latin dalam Tintin?

Gambar
James Scorer, “Imitating Incas and Becoming Llamas: Tintin in Latin America—or the Latin America in Tintin?”, International Journal of Cultural Studies Vol. 11 (2), 2008, hlm. 139-156. James Scorer adalah dosen di Manchester Metropolitan University. Tesis doktoralnya mempersoalkan konstruksi budaya Buenos Aires sebagai kota nomaden dan ruang yang cair. Artikel ini diterjemahkan oleh Ronny Agustinus. [ Catatan penerjemah : artikel jurnal ini aslinya tak berilustrasi. Ilustrasi saya tambahkan untuk memperjelas uraian. Atas alasan nostalgia saya pribadi sebagai seorang anak yang pertama kali terpukau oleh Tintin pada era 1980-an, terjemahan ini memakai nama-nama, judul, dan panel komik dari edisi Indira, bukan Gramedia]. Tintin banyak berpergian. Daerah-daerah yang pernah disambanginya meliputi Afrika, Amerika Serikat, Asia, kepulauan Karibia dan Pasifik, Timur Tengah, Eropa, dan jangan lupa: bulan. Sebagai petualang sejati, Tintin terus menerus melompat naik kereta, mengejar penerbangan ...