Postingan

Menampilkan postingan dengan label Resensi

Dekadensi Kebudayaan? Atau Sekadar Gerundelan Penulis Tua?

Gambar
La civilización del espectáculo , Mario Vargas Llosa. Meksiko: Alfaguara, Februari 2012. ISBN 978-607-11-1766-3. 228 hlm. Buku esai terbaru Mario Vargas Llosa, La civilización del espectáculo ( Peradaban Hiburan atau bisa juga Peradaban Tontonan ) ini memukau, tetapi juga menggundahkan. Impresif, tetapi cukup bikin depresif. Membacanya memang terasa bagai gerundelan orang tua yang tidak lagi memahami budaya anak muda kontemporer, dan masih mengangankan “kebudayaan tinggi” sebagai ideal atas dekadensi kultural saat ini.  Pada pembukaannya (hlm. 13) tertulis: “Belum pernah sebelumnya sepanjang sejarah begitu banyak risalah, esai, teori, dan analisa ditulis mengenai kebudayaan sebanyak di zaman kita. Dan hal ini kian mengejutkan karena kebudayaan, dalam pengertian tradisional kata tersebut, justru pada zaman sekarang ini berada di ambang menghilang. Dan mungkin sudah menghilang…” Vargas Llosa meratapi bagaimana produk-produk kebudayaan telah menjadi hiburan semata, karya seni menjadi...

Selamat Jalan, Comandante!

Gambar
Cuentos del arañero , Hugo Chávez. Editor: Orlando Oramas León dan Jorge Legañoa Alonso. Caracas: Vadell Hermanos Editores, 2012. Hugo Chávez meninggal pagi ini. Seharusnya berita ini tak terlalu mengejutkan, karena memang telah cukup lama pemimpin sosialisme abad ke-21 itu bergulat melawan kanker. Tapi tetap saja terasa menyesakkan. Bahkan mungkin bagi yang anti kepadanya. Seorang teman menulis dalam statusnya, “Tanpa Chávez dunia akan membosankan.” Chávez penting karena di tengah seruan Thatcher “There is no alternatif!” atau renungan Fukuyama bahwa kapitalisme adalah semacam akhir sejarah, ia menunjukkan pada dunia bahwa alternatif itu masih ada. Proyek politik sosialisme belum berakhir. Keyakinan tersebut tak terbentuk dalam semalam. Dalam buku semacam memoarnya, Cuentos del arañero (2012), Chávez mengisahkan masa-masa pendewasaan politiknya mulai sejak kanak-kanak hingga dinas militernya. Buku ini sendiri sebenarnya adalah kumpulan anekdot yang dikumpulkan oleh jurnalis Orlando ...

Saat Maestro Membaca Maestro, Sebelum “Lo. Gue. End.”

Gambar
García Márquez: historia de un ­deicido Mario Vargas Llosa Barcelona: Barral Editores, 1971 Gabriel García Márquez. Mario Vargas Llosa. Keduanya penulis besar Amerika Latin. Sama-sama dikagumi dan disegani dengan caranya masing-masing. Keduanya meraih Hadiah Nobel. Tanpa mereka sastra Amerika Latin, bahkan sastra dunia, takkan menjadi seperti adanya kini. Keduanya pernah berteman akrab, sangat akrab malah, sampai-sampai García Márquez menjadi bapak baptis anak Vargas Llosa. Tapi pada 1976, persahabatan itu bubar begitu saja setelah keduanya beradu jotos di sebuah bioskop di Mexico City. Kalau kata ungkapan populer sekarang ini: “Lo. Gue. End.” Semenjak itu keduanya tak pernah lagi bertegur sapa. Seperti menjadi kesepakatan diam-diam antar penulis Kolombia dan penulis Peru itu untuk tidak mengomentari karya satu sama lain. Uniknya, dalam pengamatan saya, keduanya masih sering menyinggung topik-topik yang mirip, dengan gaya dan caranya masing-masing. García Márquez menelisik profil fisik...