Postingan

Quino Tak Sekadar Mafalda

Gambar
Meski dikenal luas melalui serial Mafalda ,  kartunis Argentina Joaquín Salvador Lavado alias Quino telah menerbitkan belasan buku kartun lainnya di luar seri tersebut. Sindiran-sindiran sosial-politiknya terasa lebih menohok dalam karya-karyanya yang lain ini. Selain itu, kita juga bisa mendapati persoalan-persoalan "dewasa" serta eksplorasi visual yang rupanya belum terungkap dalam Mafalda. Berikut beberapa kartun Quino yang saya comot dari beberapa bukunya, yang semoga bisa memberi gambaran tentang oeuvre Quino secara keseluruhan. Di sini Quino mengangkat persoalan kekuasaan kelas kapitalis atas buruh dan masyarakat umum. Problem:   Mainkan hitam dan buat skak mat sesuka mereka Bien gracias, ¿y usted?  (1976)     Lagi, sindiran atas hubungan penyakit dan industri obat, yang mengingatkan saya akan sepenggal lirik lagu Soul Asylum, "Misery" : "We create the cure, then make the disease." Quinoterapia (1985) Perdamaian? Cuma menu sarapan pagi Sang Jenderal...

Epitaf untuk Sebuah Perpustakaan, oleh Mario Vargas Llosa

Gambar
"Epitafio para una biblioteca", Mario Vargas Llosa.  Terbit pertama kali di  El País  (Madrid, 29 Juni 1997 ). Diterjemahkan ke bahasa Indonesia oleh Ronny Agustinus dari  El Lenguaje de la pasión  (Madrid: Punto de lectura, 2007 [2001]), hlm. 198-204. Kemarin saya mendapat bukti kuat bahwa tempat persembunyian tercinta nan nyaman saya di London akan dirampas tanpa ampun. Saya masuki Ruang Baca Perpustakaan di jantung British Museum, dan bukan suasana hangat seperti biasa yang menyambut saya, melainkan pemandangan menyedihkan: separuh rak-rak tak terhitung jumlahnya yang melingkari ruang itu telah dikosongkan, dan di tempat ribuan buku berderet-deret apik menjulur bentangan-bentangan kayu memudar, dinodai belentong-belentong yang terlihat seperti sawang laba-laba. Belum pernah saya mengalami perasaan dikhianati dan kesepian macam ini sejak berumur 5 tahun, ketika ibu membawa saya ke Sekolah La Salle di Cochabamba dan meninggalkan saya di kelas Bruder Justiniano....

Lagi, Bukan Kiri Bukan Kanan

Gambar
Latin America's Political Economy of the Possible: Beyond Good Revolutionaries and Free-Marketeers Javier Santiso Terjemahan Inggris oleh Cristina Sanmartin dan Elizabeth Murry dari Amérique latine . Révolutionnaire, libérale , pragmatique (2005) MIT Press, 2007 Kita telah mendengarnya berulang kali, dalam pelbagai versi, dari Soeharto sampai SBY, ajakan untuk bersikap pragmatis, untuk melampaui kiri dan kanan, untuk mengambil jalan tengah, untuk tidak terjebak pengkutuban ideologis dalam menerapkan kebijakan ekonomi-politik demi kemakmuran rakyat. Tapi menurut saya, ajakan untuk mencari cara baru guna menghindari kelemahan-kelemahan dalam ortodoksi ekonomi-politik kiri dan kanan harus dibedakan dengan ajakan untuk tidak bersikap ideologis dalam berpolitik . Karena dalam jenisnya yang pertama itu, ideologi tetap ada dan tetap dijadikan pijakan yang kukuh. Contohnya yang jelas adalah Pancasila. Rumusan Pancasila punya warna sosialis yang sangat kental melihat penggagasnya yang san...

Menyambangi Karl Marx, oleh Mario Vargas Llosa

Gambar
"Una visita a Karl Marx", Mario Vargas Llosa . Terbit pertama kali di  Caretas , N° 342 (Lima, 25 November 1966, hlm. 34-35). Diterjemahkan ke bahasa Indonesia oleh Ronny Agustinus dari Contra viento y marea Vol. I (Barcelona: Seix Barral, 1986). Catatan penerjemah: Saat menuliskan esai ini, Mario Vargas Llosa masih mengagumi Marx secara politis dan sastrawi. Kini, kendati ideologi politik Vargas Llosa telah bergeser, bisa dipastikan kekagumannya akan sosok Marx sebagai penulis tetap tak berubah. Jalan itu amat pendek dan orang bisa menyusurinya bolak-balik dalam 10 menit. Panjangnya tak lebih dari 400 yard dan terletak antara Oxford Street dengan Shaftesbury Avenue. Kelihatannya sama seperti sembarang jalan lainnya di Soho, distrik kehidupan malam yang semrawut di London: penuh restoran, klub, bar, toko jajanan, gang-gang sempit, kios-kios penjual koran, kartu pos, dan buku porno, rumah-rumah bordil dengan pengumuman seadanya tertempel di pintu waktu malam, mengiklank...

Nona Tua dari Somerset, oleh Mario Vargas Llosa

Gambar
"La señorita de Somerset", Mario Vargas Llosa. Terbit pertama kali di Caretas ,  N° 752 (Lima, 13 Juni 1983, hlm. 38-39),  La Nación (Buenos Aires, 25 Juni 1983),  ABC (Madrid, 2 Juli 1983),  El Universal (Caracas, 21 Agustus 1983 ). Diterjemahkan ke bahasa Indonesia oleh Ronny Agustinus dari El Lenguaje de la pasión (Madrid: Punto de lectura, 2007 [2001]), hlm. 13-18. Kisah ini pasti sama santun dan arif seperti dirinya, dan sama ajaibnya seperti roman-roman yang ia tulis dan lahap sampai akhir hayatnya. Bahwa ini sungguh terjadi dan kini membentuk bagian dari realitas merupakan bukti menggugah kekuatan karya fiksi, kebohongan penuh tipu daya itu, yang dengan cara-cara yang paling tak terduga, acapkali menjadi kenyataan. Awal kisah ini mengherankan dan pada takaran tertentu menegangkan. Himpunan Penulis Inggris dikaba ri oleh seorang wali surat wasiat bahwa seorang wanita yang baru saja meninggal telah menye­rahkan seluruh hartanya –400.000 pound, sekitar 700....

Sastra Itu Api: Pidato Mario Vargas Llosa 1967

Gambar
"La literatura es fuego", pidato Mario Vargas Llosa saat menerima hadiah sastra Premio Rómulo Gallegos pada 11 Agustus 1967 di Caracas, Venezuela, atas novel keduanya La casa verde . Diterjemahkan ke bahasa Indonesia oleh Ronny Agustinus dari kumpulan esai Contra viento y marea  Vol. I (Barcelona: Seix Barral, 1986). Catatan penerjemah: Saat mengucapkan pidato ini, Mario Vargas Llosa masih mencanangkan diri “sosialis” dan mendukung Revolusi Kuba, dan juga masih berteman dengan Gabriel García Márquez. Karena itulah pidato ini masih menyebut-nyebut ideal “sosialisme” dan merujuk ke salah satu karakter ciptaan García Márquez, Kolonel Aureliano Buendía. Peralihan ideologis Vargas Llosa berlangsung berangsur-angsur mulai 1970-an, terutama setelah pengakuan di bawah paksaan para penulis Kuba seperti Heberto Padilla dan César López, yang menurut Vargas Llosa “bukanlah spontan, tapi direkayasa seperti pengadilan Stalinis tahun ‘30-an.” Hal ini membuatnya berpisah jalan dengan bany...